KOMPAS.com – Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih di tengah pandemi Covid-19, membuat pelaku usaha kerap alami kesulitan. Berdampak pada makin ketatnya persaingan mencari pekerjaan, terutama bagi para lulusan baru. Hal tersebut dipaparkan CEO Top Karier, Bayu Janitra Wirjoatmodjo. Ia mengatakan, pada masa transisi, perusahaan yang masih kesulitan untuk berdiri dan mempertahankan perusahaannya akan mencari kandidat yang dapat berkontribusi secara selektif. “Munculnya Covid-19 menjadi episentrum permasalahan baru di Indonesia, lapangan pekerjaan mengerucut, banyak perusahaan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja, Red), tidak mengadakan rekrutmen, dan bisnisnya dihentikan sementara,” papar Bayu dalam webinar Direktorat Pengembangan Karier, Inkubasi Wirausaha, dan Alumni (DPPKA) Universitas Airlangga (Unair), beberapa waktu lalu. Meski begitu, ia mengatakan lulusan tahun 2020 dan 2021 merupakan lulusan yang banyak dicari. Hanya saja, ia mengatakan banyak dari para fresh graduate yang bingung saat melihat kondisi pertarungan tenaga kerja. “Bayangin, lowongan kerjanya sedikit yang berebut banyak,” ujarnya. Sehingga, lanjut dia, fresh graduate harus mampu bersaing dengan kandidat lain yang lebih berpengalaman dari korban PHK. “Dulu saat saya lulus tahun 2005, antara SMK, SMA, D3, dan S1 itu beda, fungsinya di perusahaan beda. Sekarang lebih seram, lulusan S1 bisa melawan lulusan SMK,” terangnya. Bayu menambahkan, untuk menghadapi hal tersebut diperlukan korelasi skill sesuai yang dibutuhkan perusahaan. Ia mengatakan, untuk terus mencari peluang baik sebagai tenaga kerja maupun berwirausaha, peluang tersebut dapat dilihat dari fokus prioritas masyarakat sehingga dapat berfokus pada perusahaan dalam beberapa sector. Di antaranya sektor pangan, farmasi dan rumah sakit, teknologi, jasa keuangan, dan pendidikan. Selain memikirkan cara untuk mendapat pekerjaan, Bayu juga merekomendasikan hal yang dapat dilakukan untuk diri sendiri, seperti digital marketing, data analyst, basic IT support, web/app developer, dan tenaga medis. Untuk menjawab permasalahan yang terjadi, CEO Top Karir tersebut memaparkan sejumlah cara untuk menambah skill yang dapat menunjang untuk memasuki dunia kerja, yaitu: Ikut pelatihan dan webinar Memiliki mentor Mengikuti program internship Memanfaatkan media sosial Bayu menambahkan, untuk upgrade skill saat ini dapat dilakukan melalui berbagai media, salah satunya TikTok. “TikTok itu bisa dipakai, nggak? Bisa. Jadi jangan dipakai nonton yang joget-joget terus, nonton prank terus, di Tiktok itu juga banyak knowledge. Di YouTube, IG, juga banyak banget ilmu,” ujarnya.

Sumber : KOMPAS.com

we love, we can, we share